MANFAAT DAN NILAI EKONOMI PINUS (Pinus merkusii) SEBAGAI SALAH SATU KOMODITI HASIL HUTAN
Makalah Penilaian Hutan
Medan, 25 September 2019
MANFAAT DAN
NILAI EKONOMI PINUS (Pinus merkusii)
SEBAGAI
SALAH SATU KOMODITI HASIL HUTAN
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh:
Riska Fadila Hutauruk
171201111
Manajemen Hutan 5


PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keanekaragaman
hayati atau biological diversity
(biodiversity) merupakan istilah yang mengacu pada berbagai kehidupan di bumi.
Secara umum, kajiannya menyangkut tiga
tingkatan, yaitu: keanekaragaman genetik, keanekaragaman jenis, dan keanekaan
ekosistem. Di alam, beranekaragam jenis hayati umumnya hidup dalam kondisi
lingkungan tertentu, hasil interaksi antara jenis-jenis hayati (biotik) dengan
faktor abiotik (antara lain tanah, udara, air, temperatur, kelembaban) di
sekitarnya. Selanjutnya, sistem hubungan timbal balik antara jenis-jenis hayati
dengan lingkungannya membentuk suatu sistem ekologi atau ekosistem. Ekosistem
di alam banyak ragamnya. Misalnya, ekosistem hutan, pesisir, lautan dan
lain-lain. Berbagai ragam varietas, jenis atau pun ekosistem itu memberikan
manfaat pada manusia. Oleh karenanya, semua itu perlu dikelola oleh manusia
dengan sebaik-baiknya, agar berbagai keuntungan tersebut tidak punah. Salah
satu caranya adalah dengan melakukan konservasi (Irwanto, 2006).
Hutan dapat diberi batasan seusai dengan sudut pandang
masing-masing pakar. Misalnya dari sisi ekologi dan biologi, bahwa hutan adalah
komunitas hidup yang terdiri dari asosiasi pohon dan vegetasi secara umum serta
hewan lain. Dalam komunits itu, tiap individu berkembang, tumbuh menjadi
dewasa, tua, dan mati. Lebih lanjut, hutan adalah suatu komunitas biologik dari
tumbuhan dan hewan yang hidup dalam
suatu kondisi terentu, berinteraksi secara kompleks dengan komponen lingkungan
tak hidup (abiotik) yang meliputi faktor-faktor seperti: tanah, iklim dan
fisiografi. Lebih khusus, maka hutan adalah komunitas tumbuhan yang lebih
didominasi oleh pohon dan tumbuhan berkayu dengan tajuk yang rapat (Wanggai,
2009).
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan
lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam
persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat
dipisahkan. Hutan adalah suatu kumpulan bidang-bidang lahan yang ditumbuhi
(memiliki) atau akan ditumbuhi tumbuhan pohon dan dikelola sebagai suatu
kesatuan yang utuh untuk mencapai tujuan pemilik lahan berupa kayu atau
hasil-hasil lain yang berhubungan. Hal ini menggambarkan kondisi biofisik hutan
sebagai hamparan lahan yang ditumbuhi vegetasi yang didominasi pepohonan, dan
fungsi ekologi hutan sebagai masyarakat tumbuh-tumbuhan dalam satu kesatuan
ekosistem yang mampu menciptakan iklim mikro (Puspitojati, 2011).
Indonesia
merupakan daerah yang memiliki hutan hujan tropis yang sangat kompleks dengan
ciri yang utama adalah pepohonan dengan berbagai ukuran.Kanopi hutan
menyebabkan iklim mikro yang berbeda dengan keadaan di luarnya. Hutan hujan
tropis terkenal karena adanya pelapisan atau stratifikasi pohon, diantaranya
yaitu lapisan atas (tingkat A) terdiri dari pepohonan setinggi 31-45 m dengan
tajuk yang diskontinu, lapisan pepohonan kedua (tingkat B) terdiri dari pohon
dengan tinggi sekitar 20-30 m dengan tajuk yang kontinu sehingga membentuk
kanopi, lapisan pepohonan ketiga (tingkat C) terdiri dari pepohonan dengan
tinggi sekitar 4-19 m cenderung membentuk lapisan yang rapat. Selain lapisan
pepohonan juga terdapatvsemak belukar yang tingginya kurang dari 10 m dan yang
terakhir adalah lapisan terna yang terdiri dari tetumbuhan yang lebih kecil yang
merupakan kecambah dari pepohonan yang lebih besar dari bagian atas atau jenis
terna (Embo dkk, 2015).
Dewasa ini,
perkembangan ilmu kehutanan sangat diperlukan mengingat masih banyak spesies flora di dunia yang masih
belum teridentifikasi jenis maupun sifat-sifat
botaninya. Untuk itu, diperlukan adanya informasi tentang ilmu pengenalan jenis. Permasalahan yang dihadapi
saat ini adalah setiap jenis individu pohon
memiliki penampilan fisik yang hampir sama, sehingga untuk dapat menggambarkan satu pohon berbeda dengan pohon
yang lain diperlukan karakteristik yang
khas. Teknik biometrik merupakan suatu cara identifikasi jenis individu
berdasarkan karakter fisik ataupun tingkah laku. Pelaksanaan teknik pengenalan
biometrik ini memerlukan data fisik yang memiliki tingkat kestabilan tinggi
yang sedikit mengalami kecenderungan perubahan data. Adapun karakteristik fisik
utama yang memiliki kestabilan yang cukup terdapat pada bagian batang pohon
tersebut. Penentuan bentuk batang pohon sangatlah penting, mengingat batang
pokok pohon tidak hanya terdiri dari satu benda putar saja. Permasalahan
pengenalan tentang karakteristik biometrik pohon pinus di atas yang dipelajari
dalam penelitian ini dengan pengukuran data dimensi-dimensi diameter, tinggi,
tajuk dan analisis data dimensi yang diukur.
Ilmu
silvika menurut “The Society of Amarican
Foresters” adalah ilmu yang mempelajari sejarah hidup dan karakter
jenis-jenis pohon hutan dan tegakan, dan kaitannya dengan faktor-faktor
lingkungan. Oleh karena itu, ilmu silvika mendekati autekologi, yaitu salah
satu cabang ekologi. Autekologi membahas pengkajian individu organisme atau
spesies. Sejarah-sejarah hidup dan perilaku sebagai cara-cara penyesuaian diri
terhadap lingkungan biasanya mendapat penekanan. Dalam terminologi kehutanan,
autekologi mempelajari suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya
satu atau lebih jenis-jenis pohon. Jadi, penyelidikan autekologi mirip
fisiologi tumbuh-tumbuhan, sehingga aspek-aspek tertentu dari autekologi,
seperti penelitian tentang pertumbuhan pohon sering disebut fisioekologi
(Onrizal, 2009).
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa itu pohon pinus?
2.
Bagaimana sifat silvika dari
pohon pinus?
3.
Bagaimana persebaran pohon pinus?
4.
Apa saja syarat tumbuh pohon
pinus?
5.
Apa manfaat pohon pinus?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian pohon
pinus.
2.
Untuk mengetahui sifat-sifat
sivika pohon pinus.
3.
Untuk mengetahui persebaran pohon
pinus.
4.
Untuk mengetahui syarat tumbuh
pohon pinus.
5. Untuk
mengetahui manfaat pohon pinus.
ISI
Pinus merkusii Jungh
et de Vriese merupakan jenis primadona (60%) yang ditanam dalam Program
Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air khususnya kegiatan reboisasi dan penghijauan
oleh pemerintah melalui Kementerian Kehutanan yang telah dilaksanakan sejak era
tahun 60-an (PELITA I,1969). Pemilihan jenis pinus tersebut disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu: tersedianya benih cukup banyak, laju pertumbuhannya
cepat bahkan dapat menjadi jenis pionir dan dapat tumbuh pada lahan-lahan yang
marginal. Penanaman Pinus secara luas tidak menjadi penyesalan karena hasil
dari kegiatan baik reboasasi maupun penghijauan tersebut tergolong sukses
membentuk tegakan pinus yang banyak menambah devisa negara dan meningkatkan
kondisi ekonomi masyarakat baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa sampai
sekarang.
2.1 Pengertian Pohon Pinus
Tusam atau
pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya tergabung dalam
marga Pinus. Di Indonesia penyebutan tusam atau pinus biasanya ditujukan pada
tusam Sumatera (Pinus merkusii Jungh.
Et deVries). Pohon pinus adalah pohon yang rindang dan mempunyai banyak manfaat
untuk manusia sebagai obat. Pohon ini banyak dijumpai di daerah yang berbukit
dan pegunungan serta sekarang sudah ditanam sebagai pohon industri.
Pinus merkusii Jungh.
et de Vriese termasuk suku Pinaceae, sinonim dengan Pinus sylvestri auct. Non. L, P.
sumatrana Jung, Pinus finlaysoniana Blume, Pinus
latteri Manson, Pinus merkusii
var. tonkinensis, Pinus merkusiana
Cooling & Gaussen. Nama daerah: Damar Batu, Huyam, Kayu Sala, Sugi, Tusam
(Sumatera), Pinus (Jawa), Sral (Kamboja), Thong Mu (Vietnam), Tingyu (Burma),
Tapusan (Filipina), Indochina Pine, Sumatera Pine, Merkus Pine (Amerika
Serikat, Inggris) dan lain-lain.
Pinus merkusii Jungh.
et de Vriese, (sigi atau tusam), masuk ke dalam Kingdom Plantae, Divisi
Pinophyta, Kelas Pynopsida, Ordo Pinales, Famili Pinaceae, genus Pinus,
sub-genus Pinus, spesies Pinus merkusii.
2.2 Sifat-Sifat Silvika Pohon Pinus
Tanaman
pinus (Pinus merkusii Jungh. Et
deVries) memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Pinus merkusii
Jungh. Et deVries adalah pohon dengan ketinggian mencapai 1-40 meter.
2. Sistem
perakaran dari Pinus merkusii Jungh.
Et deVries berupa akar tunggang (radix
primaria).
3. Batang
pada Pinus merkusii berupa batang
berkayu berbentuk bulat (teres)
dengan permukaan batang beralur (sulcatus).
Arah tumbuh tegak lurus (erectus) dengan pecabangan modopodial. Berdiameter 100
cm dan batang bebas cabang 2-23 m. pinus tidak berbanr, kulit luar kasar
berwarna coklat kelabu sampai coklat tua, tidak mengelupas dan beralur lebar
serta dalam.
4. Daun
pohon ini berbentuk jarum dalam berkas 2 dan berkas jarum (sebetulnya adalah
tunas yang sangat pendek yan tidak pernah tumbuh), pada pangkal berkas
dikelilingi oleh sarung sisik berupa selaput tipis panjangnya sekitar 0,5cm.
Duduk daun tersebar (folia sparsa).
5. Bunga
pada pohon Pinus merkusii Jungh. Et
deVries berkelamin satu (uniseksualitas) berumah satu (monoecus). Bunga jantan dan bunga betina dalam satu tunas. Bunga
jantan panjangnya sekitar 2 cm, pada pangkal tunas yang muda, tertumpuk
berbentuk bulir. Bunga betina terkumpul dalam jumlah kecil pada ujung tunas
muda berbentuk silindris, dan sedikit berbangun telur kerapkali bengkok.
Ujungnya runcing, bersisik dan biasanya berwarna coklat. Pada tiap bakal
bijinya terdapat dua sayap. Sisik kerucut
buah dengan perisai ujung berbentuk jajaran genjang, akhirnya
merenggang, kerucut buah panjangnya 7-10 cm.
6. Biji
pada Pinus merkusii Jungh. Et deVries
terletak pada dasar setiap sisik buah, setiap sisik menghasilkan dua biji,
bulat telur dan pipih panjangnya 6-7 cm serta bersayap. Sayap melekat pada
biji, mudah lepas.
7. Kayu
teras berwarna coklat kemerahan dan kayu gubal berwarna kuning keputihan.
8. Densitas
kayu 565-750 kg/m³ pada MC 12%. Berat jenis rata-rata 0,55 dan termasuk kelas
kuat III serta kelas awet IV.
9. Serat
kayu lurus dan sama rata antara kayu gubal dan teras.
10. Pengeringan
sekitar 12-15 hari untuk mendapatkan level MC 12%.
Pohon pinus
berbunga dan berbuah sepanjang tahun, terutama pada bulan Juli-Nivember. Biji
yang baik warna kulitnya kerin kecoklatan, bentuk bijinya bulat, padat dan
tidak berkerut. Jumlah biji kering 57.900 butir per kg atau 31.000 butir/l.
serasah pinus akan terdekomposisi secara alami dalam waktu 8-9 tahun. Serasah
pinus merupakan serasah daun jarum yang mempunyai kandungan lignin dan
ekstraktif tinggi bersifat asam sehingga sulit untuk dirombak oloh
mikroorganisme.
2.3 Persebaran Pohon Pinus
Pinus merkusii
merupakan satu-satunya jenis pinus yang asli di Indonesia. Pinus merkusii merupakan jenis pohon pionir berdaun jarum yang
termasuk dalam family Pinaceae. Secara alami Pinus merkusii juga dijumpai tumbuh di Aceh, Tapanuli dan daerah Kerinci,
Sumatera bagian utara. Dapat tumbuh pada daerah ketinggian 200-2.000 m dpl,
dengan curah hujan antara 1.200-3.000 mm pertahun. Selain di Indonesia, Pinus merkusii juga dijumpai tumbuh
secara alam di Vietnam, Kamboja, Thailand, Burma, India, dan Philipina. Secara
geografis tersebar antara 2⁰ LS - 22⁰ LU dan 95⁰ 30’ BB - 120⁰ 31’ BT
Pertama
kali pinus ditemukan di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan oleh seorang ahli
botani dari Jerman, Dr. F. R. Junghuhn, tahun 1841. Jenis ini tergolong jenis
cepat tumbuh dan tidak membutuhkan persyaratan khusus dalam menanamnya. Suatu
berkah yang luar biasa, pinus menyebar secara alami ke bagian selatan
khatulistiwa, sampai melewati lintang 2°
LS.
Ada
tiga strain pinus di Sumatra, dengan penyebarannya, sebagai berikut:
· Strain Aceh,
penyebarannya dari pegunungan
Seulawah Agam sampai sekitar Taman Nasional Gunung Leuser dan menyebar ke
selatan mengikuti pegunungan Bukit Barisan lebih kurang 300 km melalui Danau
Laut Tawar, Uwak Blangkenjeran sampai ke Kutacane pada ketinggian 800 - 2.000 m dpl.
· Strain Tapanuli,
penyebarannya di daerah Tapanuli
ke selatan Danau Toba. Tegakan alami pinus umumnya terdapat di pegunungan Dolok Tusam dan Dolok Pardomuan pada ketinggian 1.000 -
1.500 m dpl.
· Strain Kerinci,
menyebar di sekitar pegunungan
Kerinci. Tegakan alami pinus
yang luas terdapat antara Bukit Tapan dan Sungai Penuh pada ketinggian 1.500 – 2.000
m dpl.
Menurut
catatan, Pinus merkusii yang ditanam
di Indonesia benihnya berasal dari Aceh atau asal mulanya dari Blangkejeren,
sedangkan asal Tapanuli dan Kerinci belum dikembangkan. Penah dicoba menanam Pinus merkusii asal Tapanuli di Aek
Nauli tetapi karena serangan Milionia
basalis akhirnya tidak dilanjutkan pengebangannya.
2.4 Syarat Tumbuh Pohon Pinus
Seperti
sifat pohon pada umumnya pertumbuhan pohon pinus sangat dipengaruhi oleh adanya
kombinasi faktor lingkungan yang berimbang dan menguntungkan. Apabila satu
faktor lingkungan tidak seimbang dengan faktor lainnya, faktor tersebut dapat
menekan pertumbuhan tanaman. Faktor lingkungan yang dimaksud adalah: cahaya,
tunjangan mekanis, unsur hara, udara dan air. Kuantitas cahaya pada wilayah
tropis ditentukan oleh musim dan kelerengan sedangkan kualitas ditentukan oleh
panjang gelombang yang diterima oleh tanaman. Tidak semua panjang gelombang
cahaya bermanfaat pada tanaman. Panjang gelombang cahaya yang berfungsi untuk
aktivitas fotosintesa tanaman adalah berkisar antara 400 mµ- 760 mµ (sinar yang
tampak). Suhu optimum untuk tanaman berbeda-beda sesuai golongan dan jenisnya.
Pinus merkusii
tergolong jenis yang membutuhkan cahaya sinar matahari secara penuh (jenis heliophytes) dalam proses
pertumbuhannya. Berkurangnya intensitas dan pendeknya waktu cahaya matahari
yang diterima dapat menghambat pertumbuhan pohon, karena kegiatan fotosintesa
menjadi menurun. Faktor cahaya yang penuh diterima merupakan salah satu penyebab
terbentuknya banyak tegakan pinus tumbuh baik di jejeran punggung bukit sejauh
mata memandang.
Keberhasilan
pembibitan pinus sangat ditentukan oleh kualitas biji, lingkungan dan
tersedianya mikoriza untuk pertumbuhan semai. Ketiga faktor tersebut saling
berhubungan satu sama lain untuk memproduksi bibit semai yang berkualitas.Biji
pinus besar dapat menghasilkan persentase kecambah tinggi dan semai yang kuat,
sehat dan tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrim (merugikan). Temperatur
yang dianggap memadai untuk mendorong proses pembijian masih belum diketahui
secara pasti. Faktor lingkungan yang berperan dalam perkecambahan dan
pertumbuhan semai adalah air, tanah dan hama penyakit. Air diperlukan terutama
untuk translokasi, pembelahan sel, aktivitas enzym . Media semai diperlukan
tanah yang bertekstur sarang (pasir lebih banyak) karena kandungan oksigen yang
cukup dan temperatur yang memadai (20⁰C-30⁰C) sangat dibutuhkan pinus untuk
berkecambah.
Pertumbuhan
anakan pinus membutuhkan simbiose jamur mikoriza sehingga pada media persemaian
harus digunakan tanah bermikoriza yang berkembang baik pada temperatur tanah
> 20⁰C dan keasaman (pH) tanah antara 4,7-5,4. Tidak tersedianya tanah
bermikoriza menyebabkan kegagalan fatal pada pertumbuhan bibit pinus di persemaian.
Pembangunan persemaian perlu menjadi perhatian dengan menggunakan tanah yang
telah tertulari mikoriza diambil dari kawasan tegakan pinus atau menggunakan
bibit yang telah terinokulasi mikoriza dan ditanam menyebar merata pada calon
lokasi persemaian.
2.5 Manfaat Pohon Pinus
Di
samping kayu, pinus
mempunyai manfaat
menghasilkan getah dan produk
turunan lainnya. Gondorukem
merupakan hasil penyulingan getah pinus yang menghasilkan destilat berupa
minyak terpentin. Komponen utama gondorukem berupa asam-asam resin seperti asam
abietat banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, kosmetik dan obat-obatan.
Pada industri makanan dan kosmetik asam abietat dimanfaatkan sebagai bahan
tambahan dalam kecap, bahan pengeruh untuk minuman kesehatan seperti sari
vitamin C, bahan untuk lipstik agar terlihat berkilau dan untuk gel rambut
pria.
Getah
pinus atau oleoresin merupakan produk metabolisme sekunder di dalam tumbuhan,
berbentuk cairan yang jernih, kental, lengket dan memiliki daya rekat yang cukup
tinggi, merupakan cairan asam resin. Jenis getah inimengandung senyawa-senyawa
terpenoid, hidrokarbon dan senyawa netral. Produk getah pinus bervariasi warna getahnya, dari satu lokasi
dengan lokasi lainnya, atau antar macam pengelolaan yang berbeda.
Berdasarkan
warna, getah gondorukem diklasifikasikan menjadi beberapa kelas yaitu B, C, D,
E, F, G, H, I, K, M, N, dan W-G. Kelas B, C, D (warna gelap) digunakan pada
industri minyak resin dan vernis gelap. Kelas E, F, G digunakan sebagai bahan
campuran pada industri kertas. Kelas G dan K digunakan dalam proses industri
sabun. Kelas W-G dan W-W (warna pucat) digunakan untuk bahan vernis warna
pucat, scaling wax, bahan peledak,
bahan penggosok senar, bahan solar, bahan cat, tinta cetak, semen, kertas,
plitur kayu, plastik, kembang api dan sebagainya. Produk lain dari getah, yaitu
terpentin, dengan nama lain oil of
turpentine, merupakan destilat penyulingan getah pinus dan hasil samping
dalam pengolahan gondorukem. Komponen utama yang terkandung dalam minyak
terpentin adalah terpen terutama diterpen, seperti alpha pinen dan komponen turunannya seperti kamfen, delta limonene, alloocimene. Bahan ini digunakan sebagai
pelarut minyak organik dan resin. Dalam industri digunakan sebagai bahan semir
sepatu, logam dan kayu, juga sebagai bahan kamper sintetis.
Berdasarkan
telaah dari berbagai hasil penelitian, dapat dirumuskan adanya beberapa
karakter pinus yang berpotensi sebagai pengendali tanah longsor, seperti daun
dan tajuk pinus dapat mengurangi hujan netto melalui proses intersepsi, akar pinus
yang panjang dan dalam dapat memperkuat tanah, serta pinus memiliki nilai
evapotranspirasi yang tinggi sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya longsor.
Pinus sebagai pohon yang evergreen memiliki nilai evapotranspirasi yang besar
dibandingkan dengan jenis pohon lain. Perakaran pohon pinus yang dalam lebih mengikat
lapisan lapisan induk.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Tusam
atau pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya tergabung
dalam marga Pinus.
2. Pinus
dapat tumbuh pada daerah ketinggian 200-2.000 m dpl, dengan curah hujan antara
1.200-3.000 mm pertahun.
3. Pinus merkusii
merupakan satu-satunya jenis pinus yang asli di Indonesia. Pinus merkusii merupakan jenis pohon pionir berdaun jarum yang
termasuk dalam family Pinaceae. Secara alami Pinus merkusii juga dijumpai tumbuh di Aceh, Tapanuli dan daerah Kerinci,
Sumatera bagian utara.
4. Seperti
sifat pohon pada umumnya pertumbuhan pohon pinus sangat dipengaruhi oleh adanya
kombinasi faktor lingkungan yang berimbang dan menguntungkan. Faktor lingkungan
yang dimaksud adalah: cahaya, tunjangan mekanis, unsur hara, udara dan air.
5. Di
samping kayu, pinus
mempunyai manfaat menghasilkan
getah dan produk turunan
lainnya. Gondorukem merupakan hasil penyulingan getah pinus yang menghasilkan
destilat berupa minyak terpentin.
Corryanti
dan Rika. 2015. Terobosan Memperbanyak Pinus (Pinus merkusii). Puslitbang Perum Perhutani Cepu: Jawa Tengah.
Embo,
Roni, Saroyo dan Aldefia. 2015. Inventarisasi Jenis Pohon Pada Cagar Alam
Gunung Ambang, Sulawesi Utara. Jurnal MIPA UNSRAT ONLINE 4 (2) 115-119.
Indrajaya
dan Wuri. 2008. Potensi Hutan Pinus
merkusii Jungh. et de Vriese sebagai Pengendali Tanah Longsor di Jawa. Info
Hutan 5(3): 231-240.
Irwanto.
2006. Prespektif Silvika dalam Keanekaragaman Hayati dan Silvikultur.
Yogyakarta.
Onrizal.
2009. Bahan Ajar Sivika Pertumbuhan Pohon Kaitannya dengan Tanah, Air dan
Iklim. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
Prayugo,
Y. 2015. Kaya Raya dari Pohon Pinus: Menjelaskan tentang Hama dan Penyakit
Tanaman Pohon Pinus.
Puspitojati, T. 2011. Persoalan Definisi Hutan dalam
Hubungannya Dengan Pengembangan HHBK
Melalui Hutan Tanaman. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan. 8(3): 210 – 227.
Rianto,
A. 2012. Karakteristik Biometrik Pohon Pinus merkusii Jungh et. De Vriese di
Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Departemen
Manejemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Sallata,
M. 2013. Pinus (Pinus merkusii Jungh.
Et deVries) dan Keberadaannya di Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan. Info
Teknis EBONI 10(2): 85-98.
Siregar, Edy. 2010. Pemuliaan Pinus merkusii. Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
Wanggai, F. 2009. Manajemen
Hutan. Grasindo: Jakarta.
oo ini manfaat pinus, terimakasiee
BalasHapusTerimakasih telah mengunjungi :)
HapusSemoga bermanfaat :)
Masukin info tentang gaharu dong buk
BalasHapusThx
Nanti saya buat di blog selanjutnya ya kak. Terima Kasih kak :)
HapusMakasih buat infonya. Ini sangat bermanfaat..
BalasHapusTerimakasih telah mengunjungi :)
HapusSemoga bermanfaat :)
Artikel nya mantap��
BalasHapusThank for sharing :)
Terimakasih telah mengunjungi :)
HapusSemoga bermanfaat :)
izin share ya
BalasHapusTerimakasih telah mengunjungi :)
HapusSemoga bermanfaat :)
Artikel nya bagus sekali 👌
BalasHapusInformasi lengkap! Izin jadi bahan referensi ya kak.
BalasHapusTerimakasih telah mengunjungi :)
HapusSemoga bermanfaat :)
wah ternyata pinus sangat banyak manfaatnya, terima kasih atas infonya ya..
BalasHapusTerimakasih telah mengunjungi :)
HapusSemoga bermanfaat :)
terimakasih infonyaa
BalasHapusTerimakasih telah mengunjungi :)
HapusSemoga bermanfaat :)
Nger nger banget kakak
BalasHapusTerimakasih telah mengunjungi :)
HapusSemoga bermanfaat :)
Thx infony kak.
BalasHapusTampilan blognya dibuat lebih menarik lg ya.
Terimakasih
Terimakasih atas sarannya dan telah mengunjungi :)
HapusSemoga bermanfaat :)
Terimakasih untuk infonya
BalasHapusJadi tau ternyata manfaat Pinus itu banyak
Terimakasih telah mengunjungi :)
HapusSemoga bermanfaat :)
Pemaparan sejarah,ciri silvika, dan pemanfaatannya sudah baik. Thanks info nya kak, ditunggu karya selanjutnya
BalasHapusTerimakasih telah mengunjungi. Semoga bermanfaat :)
HapusTerimakasih infonya mbak sangat bermanfaat
BalasHapussangat bermanfaat sekali.. menambah wawasan saya tentang pinus
BalasHapusTerimakasih telah mengunjungi. Semoga bermanfaat :)
HapusWow,sangat bermanfaat sekali
BalasHapusTerimakasih telah mengunjungi. Semoga bermanfaat :)
Hapus