Mengenal Kebudayaan Adat Masyarakat Nias

Makalah Sosiologi Hutan
Medan, 27 September 2019
MENGENAL KEBUDAYAAN ADAT MASYARAKAT NIAS
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh:
Riska Fadila Hutauruk
171201111
Manajemen Hutan 5




Hasil gambar untuk logo usu 







PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Masyarakat merupakan manusia yang senantiasa berhubungan (berinteraksi) dengan manusia lain dalam suatu kelompok. Manusia sebagai mahluk sosial selalu membutuhkan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhannya, sebuah keniscayaan manusia bisa hidup secara individual dalam lingkungannya. Para ilmuwan di bidang sosial sepakat tidak ada definisi tunggal tentang masyarakat dikarenakan sifat manusia selalu berubah dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, ilmuwan memberikan definisi yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Berikut ini beberapa definisi masyarakat menurut pakar sosiologi:
·         Selo Soemardjan mengartikan masyarakat sebagai orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
·         Max Weber mengartikan masyarakat sebagai struktur atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan nilai-nilai yang dominan pada warganya.
·         Emile Durkheim mendefinisikan masyarakat sebagai kenyataan objektif individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.
Manusia selalu memiliki rasa untuk hidup berkelompok akibat dari keadaan lingkungan yang selalu berubah atau dinamis. Para ilmuwan di bidang sosial sepakat bahwa kehidupan manusia tidak statis tetapi akan selau berubah (dinamis), kondisi inilah yang disebut sebagai perubahan sosial. Perubahan sosial diartikan sebagai suatu perubahan penting dalam struktur sosial, pola-pola perilaku dan sistem interaksi sosial, termasuk di dalamnya perubahan nilai, norma, dan fenomena kultural. Sebuah perubahan akan selalu hadir dalam perjalanan hidup manusia yang menjadi dinamika kehidupannya.
Interaksi yang berlangsung selama hidup manusia menimbulkan sebuah kontak dan komunikasi sosial, dimana kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari jika dua orang manusia bertemu. Kontak sosial terjadi jika seseorang atau beberapa orang melakukan hubungan dengan orang lain dan tidak harus berupa hubungan secara langsung atau fisik.
Manusia sebagai anggota masyarakat terikat oleh sebuah aturan yang berlaku di dalam masyarakatnya. Aturan tersebut diwujudkan dalam bentuk norma dan nilai yang berbeda-beda antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Hal ini disebabkan karena kebutuhan, kebiasaan, kepercayaan, kesenian, bahasa serta tata kelakuan yang berbeda antara masyarakat di suatu daerah dengan daerah lainnya. Dengan adanya norma dan nilai tersebut kehidupan masyarakat akan menjadi teratur dan terkendali sehingga terciptalah kondisi yang kondusif dalam melangsungkan hidupnya. Norma dan nilai pada suatu masyarakat bentuknya berupa tradisi yang turun temurun dan bahkan kadang dalam bentuk yang tidak tertulis. Namun masyarakat yang memilki norma tersebut senantiasa menjaganya dengan selalu membiasakan norma dan nilai yang ada kepada generasi penerus mereka, baik dalam kepercayaan, kesenian, bahasa atau dalam bentuk lainnya.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana gambaran daerah Pulau Nias?
2.      Bagaimana gambaran umum budaya masyarakat Nias?
3.      Bagaimana nilai-nilai budaya masyarakat Nias?
1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui gambaran daerah Pulau Nias.
2.      Untuk mengetahui gambaran umum budaya masyarakat Nias.
3.      Untuk mengetahui nilai-nilai budaya masyarakat Nias.

BAB II
ISI
2.1  Gambaran Daerah Pulau Nias
Nias adalah gugusan pulau yang jumlahnya mencapai 132 buah, membujur di lepas pantai barat Sumatera yang menghadap Samudera Hindia. Tidak semua pulau tersebut dihuni oleh manusia. Hanya sekitar lima pulau besar yang dihuni, yaitu Pulau Nias (9.550 km²), Pulau Tanah Bala (39,67 km²), Pulau Tanah Masa (32,16 km²), Pulau Tello (18 km²), dan Pulau Pini (24,36 km²). Dari lima pulau tersebut, Pulau Nias-lah yang berpenghuni paling padat serta menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan.
Dilihat dari topografinya, Nias adalah dataran rendah yang di tengahnya terdapat bukit-bukit. Mayoritas penduduknya masih tinggal di pedalaman dan berprofesi sebagai petani. Mereka tinggal di kampung-kampung yang dipisahkan jarak yang cukup jauh antara satu kampung dan kampung lainnya. Meskipun metode bertani masyarakat Nias masih bersifat sederhana, mereka tetap mampu menghasilkan beberapa komoditas unggulan, seperti kelapa, karet, cokelat, dan nilam. Akhir-akhir ini, setelah dikelola lebih serius, sektor pariwisata juga merupakan tulang punggung perekonomian penduduk Nias. Di bidang pariwisata, potensi wisata Nias terletak di jalur yang disebut Segitiga Emas Industri Pariwisata Nias Selatan, yaitu Kecamatan Lolowa‘u–Gomo Pulau-Pulau Batu. Porosnya terletak di omo hada, rumah tradisional di Desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk. Dalam.2 Pulau yang sangat terkenal dengan budaya megalitiknya ini juga menyimpan beberapa misteri dan keunikan. Termasuk mengenai leluhur orang Nias sekarang ini yang bisa dilihat jejak-jejaknya dalam cerita-cerita lisan atau hoho yang berkembang dalam masyarakat Nias. Para penghuni pulau ini menyebut diri mereka sebagai ono niha (orang Nias) yang diyakini oleh sebagian ahli antropologi dan arkeologi sebagai salah satu suku tertua di Nusantara.

2.2  Gambaran Umum Budaya Masyarakat Nias
Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).  Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Dalam masyarakat nias di kenal pula adanya sistem kasta (12 tingkatan Kasta).
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.
Sementara itu penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau, kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.

a.       Bahasa Masyarakat Nias
Bahasa Nias, atau Li Niha dalam bahasa aslinya, adalah bahasa yang dipergunakan oleh penduduk di Pulau Nias. Bahasa ini merupakan salah satu bahasa di dunia yang masih belum diketahui persis dari mana asalnya. Dr. Lea Brown, seorang ahli linguistik dari Australia yang telah menulis disertasi doktoralnya tentang bahasa Nias Selatan berjudul “A grammar of Nias Selatan”, mengatakan dalam suatu wawancara: “Barangkali misteri terpenting, dan yang paling menarik bagi para ahli bahasa, adalah ciri khas gramatikal Li Niha yang hingga sekarang tidak dikenal dalam bahasa-bahasa lain di dunia.” Bahasa Nias termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia tetapi agak berbeda dengan bahasa Nusantara lainnya, karena sifatnya yang vokal yaitu tidak mengenal konsonan di tengah maupun di akhir kata. Bahasa Nias mempunyai huruf bunyi tunggal (vokal) yang khas yaitu yang bunyinya hampir sama dengan e pepet atau eu dalam bahasa Sunda. Berdasarkan analisis, di identifikasi bahwa fonem bahasa Nias hanya berjumlah 20, yakni: b, d, f, h, g, ng, j, k, l, m, mb, n, ndr, r, s, t, w, ŵ , y, z. 
 Logat dan intonasi bunyi bahasa Nias berbeda–beda yaitu karena memiliki dua logat, antara lain logat Nias Utara dan Nias Selatan atau Tello. Logat pertama dipergunakan di Nias bagian utara, timur, dan barat yang menggunakan pengaruh logat bahasa Nias Utara antara lain di daerah pedalaman dan daerah pantai memiliki ciri khas. Logat yang kedua di Nias bagian tengah, selatan dan Kepulauan Batu yang mendapat mengaruh bahasa logat Nias bagian Selatan yaitu di daerah pedalaman dengan intonasi yang lebih tegas dan penekanan bunyi konsonan lebih sering. Penggunaan imbuhan berupa awalan, akhiran dan sisipan terbatas. Penggunaan morfologi lebih banyak terjadi karena ada perubahan bunyi secara sintaksis bukan semantik. 
Bahasa Nias merupakan salah satu bahasa dunia yang masih bertahan hingga sekarang dengan jumlah pemakai aktif sekitar setengah juta orang. Bahasa ini dapat dikategorikan sebagai bahasa yang unik karena merupakan satu-satunya bahasa di dunia yang setiap akhiran katanya berakhiran huruf vokal. Bahasa Nias mengenal enam huruf vokal, yaitu a, e, i, u, o dan ditambah dengan ö (dibaca dengan "e" seperti dalam penyebutan "enam"). 
 Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa Nias seharusnya memiliki fungsi-fungsi three in one. Bahasa Nias tidak saja merupakan bagian, indeks, dan simbol budaya Nias. Bahasa Nias juga merupakan media untuk memenuhi kebutuhan menyampaikan atau menanggapi suatu informasi, baik mengenai masa lampau, mengenai masa kini, maupun mengenai masa depan. Saat ini bahasa Nias masih digunakan sebagai alat komunikasi pada berbagai ranah, terutama oleh (sebagian besar) penduduk di desa-desa di pulau Nias. Beberapa warga komunitas tertentu asal Pulau Nias, yang tinggal di beberapa daerah di luar Pulau Nias, terutama di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa juga masih menggunakan bahasa Nias ketika berkomunikasi dengan sesama warga asal Pulau Nias.

b.      Sejarah Marga Nias
Sistem kekerabatan yang berlaku di Nias adalah menurut garis keturunan ayah (patrilineal) dan mado (marga) menjadi perlambang akan asal dan klasifikasi “keluarga” seseorang dan selalu marga (mado) ayah yang ditempatkan dibelakang nama lahir untuk generasi dibawahnya. Marga-marga yang ada pada masyarakat Nias adalah Amazihönö, Baeha, Baene, Bate'e, Bawamenewi, Bawaniwa'ö, Bawö, Bali, Bohalima, Bu'ulölö, Buaya, Bunawölö, Bulu'aro, Bago, Bawaulu, Bidaya, Bulolo, Baewa Ba'i menewi Boda hili, Dakhi, Daeli, Dawolo, Daya, Dohare, Dohona, Duha, Duho, Fau, Farasi, Finowa'a, Fakho, Fa'ana,Famaugu, Fanaetu, Gaho, Garamba, Gea, Ge'e, Giawa, Gowasa, Gulö, Ganumba, Gaurifa, Gohae, Gori, Gari, Halawa, Harefa, Haria, Harita, Hia, Hondrö, Hulu, Humendru, Hura, Hoya, Harimao, Lafau, Lahagu, Lahömi, Laia, Luaha, Laoli, Laowö, Larosa, Lase, Lawölö, Lö'i, Lömbu, Lamölö, Lature, Luahamböwö, Lazira, Lawölö, Lawelu, Laweni, Lasara, Laeru, Löndu go'o, Lase, Larosa, Maduwu, Manaö, Maru'ao, Maruhawa, Marulafau, Mendröfa, Mangaraja, Maruabaya, Möhö, Marundruri, Mölö, Nazara, Ndraha, Ndruru, Nehe, Nakhe, Nadoya, Nduru, Sadawa, Saoiagö, Sarumaha, Sihönö, Sihura, Sisökhi, Saota, Taföna'ö, Telaumbanua, Talunohi, Tajira, Wau, Wakho, Waoma, Waruwu, Wehalö, Warasi, Warae, Wohe, Zagötö, Zai, Zalukhu, Zamasi, Zamago, Zamili, Zandroto, Zebua, Zega, Zendratö, Zidomi, Ziliwu, Ziraluo, Zörömi, Zalögö, Zamago, Zamauze.

c.       Adat Istiadat dan Filsafat Hidup Masyarakat Nias
Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kemudian bagi siapa saja yang melanggar hukum tersebut akan di kenakan sanksi sesuai dengan apa yang dilakukannya, bahkan ada sanksi yang sampai kepada kematian. 
Suku Nias mengenal sistem kasta (12 tingkatan kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah Balugu. Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari. Ada 3 jenis pesta dari berbagai varian yang sedemikian banyak (sebanyak jumlah desa yang ada): integrasi individu ke dalam komunitas (lahir, menikah, meninggal, naiknya status sosial), pesta antar desa seketurunan untuk menghormat leluhur, dan fondrakö yaitu perayaan peneguhan norma-norma adat yang dirayakan 7 tahun sekali. Pesta yang pertamalah yang paling meriah dirayakan, paling banyak babi yang disembelih dan  dimasak. Pada perayaan naiknya status seseorang, batu-batu megalith dibuat dan ditegakkan di halaman rumah balugu sebagai tanda dari status sosialnya. Tanpa adanya pesta, megalith tidak punya alasan untuk didirikan. Umumnya pesta dilangsungkan dengan menari dan menyanyikan hoho
 Menari adalah mencipta ruang. Dalam tindakan menari dan menyanyikan hoho itu tatanan semesta (banua) dipentaskan ulang. Semua anggota komunitas berpartisipasi dalam tarian sesuai peran dan kedudukan dia di dalamnya. Desa dan anggotanya pada peristiwa itu sungguh-sungguh menjadi banua, karena istilah banua itu sendiri selain bermakna langit, semesta, juga desa dan orang-orangnya. Di dalam peristiwa menari dan menyanyi ini dibagikanlah (commune) dan diteguhkan kisah penciptaan dan harapan yang hendak dicapai di depan. Menari adalah awal dan akhir dunia.
Suku Ono Niha (suku Nias) kepatuhan terhadap adat-istiadat itu adalah merupakan salah satu beban tugas yang harus ditaati agar dapat menggapai apa yang disebut dengan fahasara-dödö (persatuan). Sebab dengan tidak adanya fahasara-dödö (persatuan) maka akan timbullah yang disebut siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Itulah sebabnya ono niha takut melawan atau melanggar setiap peraturan (fondrakhö) yang berlaku dan yang sudah diatur di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat Nias mempercayai bahwa apa yang diamanahkan oleh leluhur itu adalah “Hukum” dan barang siapa yang melanggarnya akan dikenakan sanksi yang berat atau kutukan dari arwah leluhur yang mengakibatkan hidup diatas dunia ini tidak bahagia, tidak aman serta dilanda oleh kesengsaraan hidup sampai ke anak cucu. Amaedola (pepatah) Nias mengatakak afatö gahe zanaö, aköi döla hulu zanuri arö yang artinya patah kaki yang melanggar hukum dan bengkok punggung yang menyeruaknya. 

d.      Kesenian Masyarakat Nias
Kesenian masyarakat Nias meliputi seni musik, seni lukis, tari, seni kerajinan, seni pahat seperti memahat patung. Nias memiliki budaya yang sangat menarik. Lompat batu (hombo batu) merupakan salah satu contoh budaya yang paling terkenal dan unik, di mana seorang pria melompat di atas sebuah tumpukan batu dengan ketinggian lebih dari 2 meter. Lompatan itu untuk menunjukkan kedewasaan seorang pria, para pengunjung dapat menyaksikan lompat batu tersebut di Desa Bawomatolua, Hilisimaetano, atau di desa-desa sekitarnya. Lompat batu dilakukan untuk menunjukkan kedewasaan seorang pria. Walaupun hal ini sangat berbahaya tetapi menjadi sebuah olahraga yang menyenangkan serta menjadi daya tarik pariwisata di pulau Nias.
 Tarian perang tradisional Nias juga sangat menarik tetapi jangan takut karena tarian ini bukan untuk menunjukkan perang yang sebenarnya. Para penari mengenakan pakaian tradiional, pakaian yang terbuat dari sabut ijuk dan serat kulit kayu dan kepala mereka dihiasi dengan bulu burung. Dengan tangannya mereka membawa tombak dan perisai. Di dalam kebudayaan Nias, tarian tradisional merupakan hal penting dan masih ada sampai sekarang, contohnya adalah sebagai berikut:
·         Maluaya (tari perang), terdapat diseluruh daerah Nias. Di bahagian utara namanya Baluse. Tarian tersebut ditarikan minimal 12 orang pria, dan bila lebih maka akan lebih baik. Pada umumnya lebih 100 orang, gerakannya sangat kuat. Maluaya ini di Pulau-pulau Batu berbeda dengan daerah Nias lainnya, di Pulau-pulau Batu para wanita juga turut menari. Para wanita menari dengan langkah kecil yang lemah gemulai. Tarian Maluaya ditarikan pada upacara pernikahan untuk masyarakat kelas atas, penguburan, dan pesta untuk menyambut pendatang baru.
·         Maena adalah sebuah tarian khas dari Nias Utara yang ditarikan oleh wanita dan pria, biasanya ditarikan pada uapacara pernikahan. 
·         Fogaele adalah sebuah tarian khas Nias Selatan yang ditarikan oleh wanita untuk mengekspresikan rasa hormat dan untuk menyambut tamu khusus dan memberikan mereka sirih tradisional. Di bagian Utara dinamakan Mogaele dan dapat ditarikan oleh wanita dan pria. 
·         Foere adalah tarian yang menampilkan lebih dari 12 penari wanita, diiringi dengan seorang penyanyi. Tarian ini merupakan bentuk dari penyembahan untuk berakhirnya kematian dan bencana. 
·         Fanarimoyo (tarian elang) adalah sebuah tarian yang ditarikan di Nias Selatan dan Utara oleh 20 penari wanita. Kadang-kadang di dalam lingkaran ditarikan oleh penari pria. Di bagian utara tarian ini dinamakan Moyo. Tarian ini dimulai dengan gerakan seperti elang terbang dan ditampilkan untuk acara hiburan. Tarian ini menggambarkan seorang gadis yang harus menikahi pria yang tidak dicintainya. Dia berdoa supaya menjadi seekor elang yang dapat terbang.
·         Folaufaulu adalah upacara yang manandakan kedudukan status seseorang pada zaman megalitikum. Dalam upacara ini ditarikan kedua tarian Maluaya dan Foere.
·         Famadaya Hasijimate (Siulu) adalah sebuah upacara pemakaman bagi keturunan raja di Nias Selatan. Di dalam upacara ini, tarian Maluaya ditarikan dibawah pimpinan desa Shaman, peti mati diukir dari batang kayu pohon dan ukiran kepalanya dihiasi dengan sebuah batang kayu untuk memperlihatkan dasarnya setelah itu zenajah tersebut dikuburkan.
·         Mandau Lumelume adalah sebuah tarian dengan tujuan untuk memanggil roh. Tarian ini hanya ada di Pulau-pulau Batu.
·         Manaho adalah tarian yang ditarikan pada acra pernikahan dan untuk menyambut tamu penting. Penari wanita berjejer didepan dan penari pria yang berada disamping melakukan gerakan yang mirip dengan tarian perang. Karena tarian ini sangat mahal biasanya masyarakat kelas bawah menarikan tarian Boli-boli. Tarian ini ditarikan didalam gedung, dengan tujuan agar tamu tidak merasa bosan. Tarian ini hanya ada di Pulau-pulau Batu.
·         Tari Tuwu adalah tarian yang menampilkan seorang penari wanita/pria diatas sebuah meja batu, dengan tujuan untuk menghormati para pemimpin.
·         Fadabu adalah sebuah upacara untuk mempertunjukkan kekebalan seseorang. Sebuah pertunjukkan yang menikam dirinya sendiri dengan benda tajam.
·         Silat Nias adalah sebuah bentuk seni perang tradisional yang lebih menekankan kepada sisi seninya daripada sisi perangnya. Masyarakat Aceh dan Pesisir memperkenalkn tarian ini ke Nias. Ada banyak jenis nama-nama tarian ini: Starla, Aleale, Sangorofafa, Famosioshi, dan lain-lainnya.
·         Fatabo adalah sebuah peristiwa unik di Pulau-pulau Batu. Fatabo walaupun berunsur tari, namun bukan sebuah tarian, hanya sebuah cara untuk menangkap ikan diair yang dangkal. Dua baris orang yang masing-masing di bawah pimpinan, berjalan meninggalkan air tersebut dan membawa sebuah  kotak. Pemimpin tersebut meminta agar dibuat suara keras dan memukul air tersebut dengan tongkat, kemudian mereka berjalan di atas tanah, menyembunyikan kotak tersebut, dan menyimpan ikan tersebut di antara mereka dan pantai. Di pantai lain barisan pria bergerak melemparkan jaringan untuk menangkap ikan. Keseluruhan peristiwa ini adalah sebuah nilai seni yang mempunyai irama musik dan keributan. Fatabo sangat populer di Pulau Sigata, Desa Wawa, dan Tanah Masa. Sekarang sangat jarang dijumpai di Nias.
·         Tari Ya’ahowu merupakan sebuah tari kreasi baru yang biasanya di pertunjukan pada acara penyambutan tamu adat, pesta-pesta adat seperti pernikahan, penyambutan tamu pemerintahan atau daerah. Tarian ini merupakan tari kreasi baru dan sudah disahkan menjadi salah satu tarian kesenian Nias. Dan tarian ini selalu di pertunjukan setiap kali ada penyambutan tamu di pulau Nias
Masyarakat Nias juga mengenal beberapa tradisi musik antara lain yaitu tradisi seni suara yang dilakukan bersama (sikola manunõ), nyanyian perorangan, dan hoho (nyanyian adat). Sikola manunõ merupakan suatu koor baik dalam kelompok gereja untuk memuliakan kebesaran atau pujian kepada Tuhan, lagu kematian sebagai ratapan bela sungkawa (bawa abu dodo), lagu mars, pemberi semangat berperang (sinuno wanuwo) dan lagu anak-anak (sinuno nda ono). Salah satu contoh lagu dari Nias adalah Hoho Hilinawalö-Fau.
Alat musik pukul, gesek, tiup dan petik juga terdapat di Nias. Alat-alat musik tersebut dibunyikan pada saat pesta. Pada upacara kebesaran, pesta perkawinan dan kematian, aramba (gong), faritia (canang), dan göndra (gendang), fondrahi atau tutu (tambur) dibunyikan berhari-hari sebelum pesta berlangsung agar masyarakat dan desa tetangga mendengarnya. Alat musik lagia, ndruri, doli-doli, dan surune sering dibunyikan oleh masyarakat pada saat mereka sedang santai, kesepian, atau sedih agar mereka dapat terhibur.
e.       Rumah Adat Masyarakat Nias
Bentuk rumah adat di Nias terbagi menjadi dua, yaitu rumah adat berbentuk oval dan rumah adat berbentuk persegi. Rumah adat yang berbentuk oval hanya dapat pada wilayah Nias bagian utara sedangkan rumah adat berbentuk persegi terdapat pada wilayah Nias bagian tengah dan selatan.
a. Rumah adat bentuk persegi
b. Rumah Adat bentuk oval



Rumah adat yang difungsikan sebagai tempat tinggal di Nias selatan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu rumah adat di daerah pertengahan sekitar gomo dan rumah adat di sekitar teluk dalam.

2.3  Nilai-Nilai Budaya Suku Nias
Masalah budaya atau kebudayaan hingga kini masih menjadi pembahasan para ahli budaya (antropolog). Tidak mengherankan apabila setiap pakar budaya memiliki pengertian yang berbeda-beda. Dalam berbagai perbedaan pengertian itu terdapat benang merah pemahaman bahwa budaya adalah sebuah aktivitas, respon, jawaban atas persoalan hidup sekaligus sebagai pedoman, arah dalam bertindak atau berperilaku.
Salah satu aspek penting yang selalu menjadi perhatian pakar budaya adalah hal-hal yang berkaitan dengan nilai budaya. Konsep ini menjadi sentral ketika berbicara tentang budaya. Tidak sedikit para pakar budaya yang mengatakan bahwa roh sebuah kebudayaan sebenarnya terletak pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 
 Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai budaya adalah sesuatu yang menjadi pusat dan sumber daya hidup dan kehidupan manusia secara individual, sosial, dan religius-transendental untuk dapat terjaganya pandangan hidup masyarakat. Berkaitan dengan wujud nilai budaya Nias, dapat ditelusuri atau dilacak melalui tradisi lisan, kebiasaan yang perpola (adat-istiadat), dan hasil peninggalan leluhur. Dalam tulisan ini penelusuran nilai budaya Nias terbatas pada tradisi lisan seperti hoho (syair), amaedola (peribahasa), dan ungkapan-ungkapan lainnya. Setelah dilakukan penelusuran dengan memanfaatkan teori-teori tradisi lisan (khususnya antropologi sastra) ditemukan beberapa nilai budaya Nias yang bersifat umum, yaitu:
·         Nilai Religius
Jika dikaitkan dengan masyarakat Nias, nilai religius yaitu konsep mengenai penghargaan tertinggi yang diberikan oleh masyarakat Nias mengenai kehidupan suci. Dalam beberapa tradisi lisan, walaupun bervariasi, terdapat kepercayaan atau keyakinan akan wujud tertinggi. Masyarakat Nias meyakini bahwa dunia dan segala isinya ini dicipta oleh dewa tertinggi yang namanya berbeda-beda, seperti Sihai, Lowalangi, Silewe, dan sebagainya. Bagi sebagian pakar budaya, persoalan nama yang berbeda-beda terhadap wujud tertinggi adalah sebuah dinamika kelompok masyarakat yang tidak perlu direspon secara berlebihan. Yang utama ialah bahwa masyarakat Nias memiliki sesuatu yang dipercayai dan diyakini sebagai causa-prima. Pengakuan terhadap wujud tertinggi ini merupakan cikal-bakal pemahaman terhadap hidup suci, kudus di hadapan Sang Khalik. Berbagai ritual dilakukan (tentu saja sesuai dengan tingkat perkembangan daya pikir) untuk “menyenangkan” wujud tertinggi. Aktivitas mereka ini seakan ingin menyatakan kepada generasi berikutnya bahwa apapun yang ada di dunia ini tidak pernah terwujud tanpa “seseorang” yang menjadikannya. Setiap generasi berikutnya, aktivitas atau ritual ini patut diteruskan yang dalam kehidupan sekarang ini dikemas dalam hidup beragama. Nilai teligius seperti ini telah menjadi konsepsi ideal leluhur masyarakat Nias. Artinya para leluhur mereka mendambakan kepada generasi mereka agar selalu hidup dalam dunia ritual yang tidak lain adalah memiliki spritualitas yang tinggi.
·         Nilai filosofis 
Nilai nilai filosofis adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidup yang terdapat dalam pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Jika dikaitkan dengan masyarakat Nias, nilai filosofis yaitu keterikatan masyarakat Nias pada dunia sekitar secara menyeluruh. Hal ini berbeda dengan nilai filosofis yang dikenal di dunia barat yang menekankan pada pencarian kebenaran hingga ke akar-akarnya. Nilai filosofis dunia timur lebih berorientasi pada kesempurnaan dan kebijaksanaan. Tradisi lisan Nias mengandung nilai filosofis berupa keterikatan mereka kepada kebijaksanaan hidup. Keinginan untuk selalu menyelaraskan diri dengan dunia sekitar, sesama manusia, dan wujud tertinggi, salah satu tindak perwujudan nilai filosofis ini. Peribahasa, /mobowo gaele foda, mowua ndruria ulondra/boi talulu boi taboda me no faoma nilau dododa/ (terjemahan bebas: tidak ada alasan untuk tidak mewujudkan hal-hal yang telah disepakati), memberi pemahaman kepada masyarakat Nias tentang kebijaksanaan hidup. Dengan kata lain, masyarakat Nias melalui leluhur mereka sangat mendambakan haromonisasi berbagai dimensi kehidupan. Ketika salah satu dimensi mengalami gangguan maka seluruh aspek hidup lain menjadi goyang dan bermuara pada ketidaksempurnaan.
·         Nilai etis
Menurut bahasa Yunani Kuno, etis atau etika berasal dari kata ethikos yang berarti “timbul dari kebiasaan”. Etis atau etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika). Kata etika, seringkali disebut pula dengan kata etik, atau ethics (bahasa Inggris), mengandung banyak pengertian. Dari segi etimologi (asal kata), istilah etika berasal dari kata Latin “Ethicos” yang berarti kebiasaan. Dengan demikian menurut pengertian yang asli, yang dikatakan baik itu apabila sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Kemudian lambat laun pengertian ini berubah, bahwa etika adalah suatu ilmu yang mebicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai tidak baik.  Jikat dikaitkan dengan masyarakat Nias, nilai etis (etika), yaitu keterhubungan masyarakat Nias terhadap kebaikan dan kesusilaan. Kebaikan atau kesusilaan adalah esensi hidup manusia, termasuk di Nias. Nilai budaya Nias yang berdimensi etis atau etika ini memberi penjelasan kepada masyarakat Nias bahwa hidup yang sesungguhnya ialah dengan menjunjung tinggi nilai kebaikan atau kesusilaan. Ketaatan pada hukum-hukum yang diwariskan leluhur mereka melalui fondrako (hukum adat) adalah salah satu keterikatan masyarakat Nias pada dimensi nilai etis ini. Hukum ini berupaya mengikat (kelompok) masyarakat Nias agar tetap berada dalam tataran kebaikan dan kesusilaan.
·         Nilai estetis
Nilai estetis timbul dari seberapa indah suatu objek yang di lihat. Estetis berasal dari kata estetika yang berarti salah satu cabang dari filsafat dan estetika adalah ilmu yang mempelajari tentang keindahan dari suatu objek yang indah. Jadi, nilai estetis sendiri mempunyai arti nilai dari suatu keindahan yang dirasakan maka kita pun akan menilai seberapa indah objek tersebut. Jika dikaitkan dengan masyarakat Nias, nilai estetis (estetika), yaitu keterikatan masyarakat Nias pada hal-hal yang menyenangkan, menggembirakan, menakjubkan yang diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan tutur kata. Tindak komunikasi masyarakat Nias pada hakikatnya menjunjung tinggi nilai estetis, yaitu berupaya agar mitra tuturnya merasa senang, tidak sakit hati. Hal ini terlihat dari pertanyaan tradisional, “Hadia zami ba manu? (Apa yang enak pada ayam?) Dijawab dengan “Hai iwo-iwo” (Hanya suara kokoknya) dan “Hadia zami ba niha?” (Apa yang enak bagi manusia?), dijawab dengan “Ha li si sokhi” (Hanya tutur kata). Hal ini mengungkapkan bahwa masyarakat Nias mencintai keindahan batiniah. Bukan hanya sebatas itu, nilai estetis juga terlihat pada karya seni seperti terlihat pada rumah adat, ukiran-ukiran, simbol-simbol, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
1.      Nias adalah gugusan pulau yang jumlahnya mencapai 132 buah, membujur di lepas pantai barat Sumatera yang menghadap Samudera Hindia. Tidak semua pulau tersebut dihuni oleh manusia. Hanya sekitar lima pulau besar yang dihuni, yaitu Pulau Nias (9.550 km²), Pulau Tanah Bala (39,67 km²), Pulau Tanah Masa (32,16 km²), Pulau Tello (18 km²), dan Pulau Pini (24,36 km²). Dari lima pulau tersebut, Pulau Nias-lah yang berpenghuni paling padat serta menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan.
2.      Suku Nias dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).  Bahasa Nias, atau Li Niha dalam bahasa aslinya, adalah bahasa yang dipergunakan oleh penduduk di Pulau Nias. Sistem kekerabatan yang berlaku di Nias adalah menurut garis keturunan ayah (patrilineal) dan mado (marga) menjadi perlambang akan asal dan klasifikasi “keluarga”.
3.      Beberapa nilai budaya Nias yang bersifat umum, yaitu: nilai religius, nilai filosofis, nilai etis, dan nilai estetis.

DAFTAR PUSTAKA

Afif, A. 2010. Leluhur Orang Nias dalam Cerita-cerita Lisan Nias. Kontekstualita, 25 (1): 53-79.

Alphilia, A. dan  Hari Setiawan. 2015. DNA, Kebudayaan, Persebaran pada Suku Nias. Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut seni Indonesia. Surakarta.

Maru’ao, N. 2014. Analisis Penyebab Menurunnya Penerapan Fangowai dan Fame’e afo dalam Pesta Adat Perkawinan di Kecamatan Lotu Kabupaten Nias Utara: Kajian Sosiolinguistik. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah. Medan.

Tejokusumo, B. 2014. Dinamika Masyarakat sebagai Sumber Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Geoedukasi 3 (1): 38 – 43.

Komentar

  1. Thanks infonya
    Makin sayang sama admin nya:v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi :)
      Sayang pembaca juga

      Hapus
  2. Terimaksih untuk infonya.
    Jadi tambah ilmu lgi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi :)
      Semoga bermanfaat

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi :)
      Semoga bermanfaat :)

      Hapus
  4. Informasinya sangat membantu mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi :)
      Semoga bermanfaat :)

      Hapus
  5. Infonya sangat bermanfaat untuk jadi literatur
    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi :)
      Semoga bermanfaat :)

      Hapus
  6. Infonya sangat lengkap.
    Saran: tampilannya lebih diperbaiki lagi. Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi :)
      Semoga bermanfaat :)
      Sarannya sangat membantu

      Hapus
  7. Terima kasih atas tulisan blog nya, saya jadi mengerti akan kebudayaan nias. Semoga kedepan di indonesia ini kita antar suku kali bertoleransi. Ditunggu karya selanjut nya kakak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi. Semoga bermanfaat :)

      Hapus
  8. Terimakasih infonya mbak sangat bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi. Semoga bermanfaat :)

      Hapus
  9. sangat bagus dan menambah wawasan😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi. Semoga bermanfaat :)

      Hapus
  10. sangat bagus dan menambah wawasan😍

    BalasHapus
  11. sangat bagus dan menambah wawasan😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi. Semoga bermanfaat :)

      Hapus
  12. Balasan
    1. Terimakasih telah mengunjungi. Semoga bermanfaat :)

      Hapus

Posting Komentar